Gila Gilaan.
About Me
Jumat, 05 Maret 2010
Kamis, 04 Maret 2010
Alves Ingatkan Capello: Brasil Tak Terkalahkan
LONDON - Timnas Brasil pantas ditempatkan sebagai kandidat kuat menjadi jawara Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan (Afsel). Pasukan Carlos Dunga ini membuktikan diri dengan menggulung Republik Irlandia 2-0 pada laga persahabatan di Stadion Emirates, London, kemarin.
Bagi bek Tim Samba Daniel Alves, kemenangan atas Irlandia tersebut sebagai ajang unjuk gigi terhadap tim kuat lainnya, terutama Inggris. Maklum, media massa selalu menyajikan pemberitaan tentang peluang besar The Three Lions menjai kampiun pada Piala Dunia kali ini.
Usai pertandingan, Alves mengingatkan kepada pelatih Timnas Inggris Fabio Capello bahwa Brasil tidak terkalahkan. Artinya, Brasil akan menjadi lawan paling berat bagi Inggris di Afsel mendatang.
Julio Ceser dkk memang menunjukkan gaya permainan ciamik saat melawan Irlandia. Hasilnya, Brasil masih terlalu kuat bagi tim besutan Giovanni Trappatoni.
Alves yang kini menjadi pilar Barcelona berharap bisa menjadi bagian inti pasukan Dunga di Afsel. Sehingga dia bisa membantu Brasil berjuang mencatatkan gelar juara dunia kali keenam.
"Bila Brasil bermain seperti yang diterapkan dalam 20 menit terakhir melawan Irlandia, kami hampir pasti tidak terkalahkan," kata Alves seperti disitat reuters, Kamis (4/3/2010).
"Kekuatan Brasil adalah bagaimana kecepatan dan cara kami memindahkan bola. Kami semua sangat bahagia dan percaya diri. Kami ingin memenangkan Piala Dunia lebih banyak lagi," lanjut Alves.
"Perlu diingat, Brasil memiliki sederet pemain terbaik dari yang terbaik," pungkasnya.
Bagi bek Tim Samba Daniel Alves, kemenangan atas Irlandia tersebut sebagai ajang unjuk gigi terhadap tim kuat lainnya, terutama Inggris. Maklum, media massa selalu menyajikan pemberitaan tentang peluang besar The Three Lions menjai kampiun pada Piala Dunia kali ini.
Usai pertandingan, Alves mengingatkan kepada pelatih Timnas Inggris Fabio Capello bahwa Brasil tidak terkalahkan. Artinya, Brasil akan menjadi lawan paling berat bagi Inggris di Afsel mendatang.
Julio Ceser dkk memang menunjukkan gaya permainan ciamik saat melawan Irlandia. Hasilnya, Brasil masih terlalu kuat bagi tim besutan Giovanni Trappatoni.
Alves yang kini menjadi pilar Barcelona berharap bisa menjadi bagian inti pasukan Dunga di Afsel. Sehingga dia bisa membantu Brasil berjuang mencatatkan gelar juara dunia kali keenam.
"Bila Brasil bermain seperti yang diterapkan dalam 20 menit terakhir melawan Irlandia, kami hampir pasti tidak terkalahkan," kata Alves seperti disitat reuters, Kamis (4/3/2010).
"Kekuatan Brasil adalah bagaimana kecepatan dan cara kami memindahkan bola. Kami semua sangat bahagia dan percaya diri. Kami ingin memenangkan Piala Dunia lebih banyak lagi," lanjut Alves.
"Perlu diingat, Brasil memiliki sederet pemain terbaik dari yang terbaik," pungkasnya.
Minggu, 28 Februari 2010
Keberingasan Rooney Menakjubkan
MILAN, KOMPAS.com — Mengagumkan dan menakjubkan. Itulah ungkapan yang patut dilayangkan Pelatih Manchester United Sir Alex Ferguson untuk striker Wayne Rooney karena semakin beringas di depan gawang lawan.
Dua gol Rooney ke gawang AC Milan, semalam, membuktikan bahwa pemain gempal itu kian haus akan gol. Sejak Januari tahun ini, pemain Inggris itu sudah menambah sepuluh gol untuk timnya. Jumlah ini hampir separuh jumlah yang dikoleksinya selama tujuh bulan ini.
"Dia sedang dalam kondisi ingin menghancurkan lawan dan mereka (Milan) tidak dapat mengadangnya pada babak kedua," kata Ferguson. "Dia menakjubkan," lanjutnya.
"Terutama dalam dua bulan terakhir, kami melihat peningkatan dan rasa percaya dirinya banyak berperan dalam hal itu," tambah Ferguson.
Ferguson tak ingin Rooney berpuas diri. Pemain berusia 24 tahun itu masih bisa menajamkan kemampuannya di gawang dan menajamkan naluri yang musim lalu dan musim-musim sebelumnya terkubur oleh gemerlap permainan Cristiano Ronaldo. Ferguson memberi target 30 gol musim ini, sementara Rooney sudah membukukan 25 gol di antaranya di semua kompetisi.
"Kemampuan dasarnya setara dengan pemain-pemain lain. Apa yang perlu ia lakukan adalah menambah naluri mencetak gol, yang kini sedang ia lakukan. Jika ia terus melanjutkan tren itu, maka dia akan menonjol di antara pemain lain," lanjut sang gaffer.
Tahun ini menjadi tahun kegemilangan Rooney. Golnya ke gawang Arsenal pada akhir bulan lalu menjadi gol ke-100 di Liga Inggris bagi mantan pemain Everton itu
Dua gol Rooney ke gawang AC Milan, semalam, membuktikan bahwa pemain gempal itu kian haus akan gol. Sejak Januari tahun ini, pemain Inggris itu sudah menambah sepuluh gol untuk timnya. Jumlah ini hampir separuh jumlah yang dikoleksinya selama tujuh bulan ini.
"Dia sedang dalam kondisi ingin menghancurkan lawan dan mereka (Milan) tidak dapat mengadangnya pada babak kedua," kata Ferguson. "Dia menakjubkan," lanjutnya.
"Terutama dalam dua bulan terakhir, kami melihat peningkatan dan rasa percaya dirinya banyak berperan dalam hal itu," tambah Ferguson.
Ferguson tak ingin Rooney berpuas diri. Pemain berusia 24 tahun itu masih bisa menajamkan kemampuannya di gawang dan menajamkan naluri yang musim lalu dan musim-musim sebelumnya terkubur oleh gemerlap permainan Cristiano Ronaldo. Ferguson memberi target 30 gol musim ini, sementara Rooney sudah membukukan 25 gol di antaranya di semua kompetisi.
"Kemampuan dasarnya setara dengan pemain-pemain lain. Apa yang perlu ia lakukan adalah menambah naluri mencetak gol, yang kini sedang ia lakukan. Jika ia terus melanjutkan tren itu, maka dia akan menonjol di antara pemain lain," lanjut sang gaffer.
Tahun ini menjadi tahun kegemilangan Rooney. Golnya ke gawang Arsenal pada akhir bulan lalu menjadi gol ke-100 di Liga Inggris bagi mantan pemain Everton itu
Benamkan Chelsea, Tevez Balaskan Dendam Bridge
Sabtu, 27/2/2010 | 21:32 WIB
LONDON, KOMPAS.com - Penyerang Manchester City, Carlos Tevez, menjadi inspirator permainan dan mencetak dua gol yang menentukan kemenangan timnya 4-2 atas Chelsea, pada duel Premier League, Sabtu (27/2/2010). Kemenangan ini melambungkan City ke posisi keempat klasemen sementara dengan 49 poin sekaligus membalaskan dendam Wayne Bridge kepada bek Chelsea, John Terry.
Bridge marah kepada Terry karena telah berselingkuh dengan mantan pacarnya, Vanessa Perroncel. Dalam sesi jabat tangan sebelum laga sebelum kick-off, Bridge menolak berjabat tangan kapten Chelsea, John Terry. Meski Bridge sudah mengatakan tak siap bertemu Terry tanpa bersikap tak ramah, namun, tak semua orang mengira ia betul-betul merealisasikan ucapannya.
Pertandingan pun kemudian diwarnai aroma permusuhan keduanya. Simpati kepada Bridge, membuat pemain City berusaha tampil sebaik mungkin meredam gempuran Chelsea. Pemain Chelsea juga berusaha menjaga wibawa Terry dengan berusaha tampil sebaik mungkin. Pendukung tuan rumah tak ketinggalan ikut menyoraki Bridge.
Hasilnya, permainan pun berjalan ketat. Selain sarat aksi perebutan bola, kedua kubu juga begitu agresif dalam menyerang. Sikap kurang tenang juga terlihat dari penyelesaian buru-buru yang dilakukan kedua kubu, sehingga banyak peluang terbuang percuma.
Di tengah kebuntuan itu, Lampard akhirnya berhasil membobol gawang Shay Given di menit ke-42. Memanfaatkan umpan terobosan Joe Cole, Lampard mengirim bola dari tengah kotak penalti ke sudut kiri bawah gawang City.
Sayang, selanjutnya, Chelsea sempat lengah sehingga Tevez berhasil menyamakan kedudukan, beberapa saat sebelum turun minum. Dalam sebuah serangan balik, Tevez menggiring bola sendirian dari tengah lapangan sampai masuk kotak penalti. Dalam kawalan John Terry, ia melepaskan tendangan yang bersarang di sudut kiri bawah gawang Chelsea.
Chelsa tak sempat berbuat banyak menanggapi gol itu, karena wasit Mike Dean keburu meniup peluit turun minum.
Memasuki babak kedua, Chelsea gagal mengantisipasi gempuran mendadak City. Akibatnya setelah sempat bertahan seadanya, mereka tak bisa menghindari gol kedua City, yang dicetak Bellamy di menit ke-51. Setelah menguasai umpan Garreth Barry, Bellamy menggiring bola sendirian melewati adangan Obi Mikel sebelum akhirnya mengirim bola ke sudut tiang jauh.
Keunggulan melambungkan moral City. Mereka pun terus mempertahankan tempo dan tensi permainan. Untuk menyegarkan daya serang, pelatih Roberto Mancini memasukkan Shaun Wright-Phillips menggantikan Adam Johnson di menit ke-60.
Perubahan itu memang tidak lantas memudahkan City. Namun, tekanan yang mereka lakukan betul-betul merepotkan barisan belakang Chelsea, hingga akhirnya terjadilah pelanggaran fatal Juliano Belletti kepada Garreth Barry di kotak penalti di menit ke-75. Tanpa ampun, wasit mengacungkan kartu merah kepada Belletti sekaligus menunjuk titik penalti untuk City.
Carlos Tevez yang dipercaya melakukan eksekusi berhasil menunaikan tugas. Sepakannya ke sudut kiri bawah gawang gagal diantisipasi Henrique Hilario dan City pun unggul 3-1.
Menyadari posisi di atas angin, City semakin tak berkenan memberi peluang kepada lawan. Memanfaatkan semua sisi lapangan, mereka melancarkan serangan demi serangan. Seperti sebelumnya, meski tak lantas mendapat gol, City berhasil menuai keuntungan lain, yaitu kartu kuning kedua yang diterima Michael Ballack akibat mengganjal Tevez di menit ke-81.
Keadaan yang semakin sulit tak memberikan plihan lain kepada Chelsea selain menyerang. Namun, ini malah membuat lini belakang melompong dan terjadilah gol keempat City dari kaki Bellamy di menit ke-87.
Gol bermula dari pergerakan Wright-Phillips di menit ke-87. Wright-Phillips kemudian membawa bola menyisir sektor kiri pertahanan Chelsea dan melepas umpan silang kepada Bellamy, yang berada di depan tiang kanan gawang Chelsea. Umpan Wright-Phillips melewati Terry dan Ivanovic, sebelum akhirnya disontek Bellamy masuk ke gawang Hilario.
Di tengah rasa frustrasi, Chelsea mencoba melanjutkan pertandingan dengan kepala tegak. Di masa injury time, mereka pun mendapat hadiah hiburan berupa penalti, menyusul pelanggaran Barry kepada Nicolas Anelka. Lampard yang dipercaya melakukan eksekusi berhasil menunaikan tugas menyarangkan bola ke gawang Given.
Gol itu sempat membangkitkan gairah Chelsea. Sayang, waktu tak cukup banyak bagi Chelsea untuk menghindari kekalahan 2-4. (*)
LONDON, KOMPAS.com - Penyerang Manchester City, Carlos Tevez, menjadi inspirator permainan dan mencetak dua gol yang menentukan kemenangan timnya 4-2 atas Chelsea, pada duel Premier League, Sabtu (27/2/2010). Kemenangan ini melambungkan City ke posisi keempat klasemen sementara dengan 49 poin sekaligus membalaskan dendam Wayne Bridge kepada bek Chelsea, John Terry.
Bridge marah kepada Terry karena telah berselingkuh dengan mantan pacarnya, Vanessa Perroncel. Dalam sesi jabat tangan sebelum laga sebelum kick-off, Bridge menolak berjabat tangan kapten Chelsea, John Terry. Meski Bridge sudah mengatakan tak siap bertemu Terry tanpa bersikap tak ramah, namun, tak semua orang mengira ia betul-betul merealisasikan ucapannya.
Pertandingan pun kemudian diwarnai aroma permusuhan keduanya. Simpati kepada Bridge, membuat pemain City berusaha tampil sebaik mungkin meredam gempuran Chelsea. Pemain Chelsea juga berusaha menjaga wibawa Terry dengan berusaha tampil sebaik mungkin. Pendukung tuan rumah tak ketinggalan ikut menyoraki Bridge.
Hasilnya, permainan pun berjalan ketat. Selain sarat aksi perebutan bola, kedua kubu juga begitu agresif dalam menyerang. Sikap kurang tenang juga terlihat dari penyelesaian buru-buru yang dilakukan kedua kubu, sehingga banyak peluang terbuang percuma.
Di tengah kebuntuan itu, Lampard akhirnya berhasil membobol gawang Shay Given di menit ke-42. Memanfaatkan umpan terobosan Joe Cole, Lampard mengirim bola dari tengah kotak penalti ke sudut kiri bawah gawang City.
Sayang, selanjutnya, Chelsea sempat lengah sehingga Tevez berhasil menyamakan kedudukan, beberapa saat sebelum turun minum. Dalam sebuah serangan balik, Tevez menggiring bola sendirian dari tengah lapangan sampai masuk kotak penalti. Dalam kawalan John Terry, ia melepaskan tendangan yang bersarang di sudut kiri bawah gawang Chelsea.
Chelsa tak sempat berbuat banyak menanggapi gol itu, karena wasit Mike Dean keburu meniup peluit turun minum.
Memasuki babak kedua, Chelsea gagal mengantisipasi gempuran mendadak City. Akibatnya setelah sempat bertahan seadanya, mereka tak bisa menghindari gol kedua City, yang dicetak Bellamy di menit ke-51. Setelah menguasai umpan Garreth Barry, Bellamy menggiring bola sendirian melewati adangan Obi Mikel sebelum akhirnya mengirim bola ke sudut tiang jauh.
Keunggulan melambungkan moral City. Mereka pun terus mempertahankan tempo dan tensi permainan. Untuk menyegarkan daya serang, pelatih Roberto Mancini memasukkan Shaun Wright-Phillips menggantikan Adam Johnson di menit ke-60.
Perubahan itu memang tidak lantas memudahkan City. Namun, tekanan yang mereka lakukan betul-betul merepotkan barisan belakang Chelsea, hingga akhirnya terjadilah pelanggaran fatal Juliano Belletti kepada Garreth Barry di kotak penalti di menit ke-75. Tanpa ampun, wasit mengacungkan kartu merah kepada Belletti sekaligus menunjuk titik penalti untuk City.
Carlos Tevez yang dipercaya melakukan eksekusi berhasil menunaikan tugas. Sepakannya ke sudut kiri bawah gawang gagal diantisipasi Henrique Hilario dan City pun unggul 3-1.
Menyadari posisi di atas angin, City semakin tak berkenan memberi peluang kepada lawan. Memanfaatkan semua sisi lapangan, mereka melancarkan serangan demi serangan. Seperti sebelumnya, meski tak lantas mendapat gol, City berhasil menuai keuntungan lain, yaitu kartu kuning kedua yang diterima Michael Ballack akibat mengganjal Tevez di menit ke-81.
Keadaan yang semakin sulit tak memberikan plihan lain kepada Chelsea selain menyerang. Namun, ini malah membuat lini belakang melompong dan terjadilah gol keempat City dari kaki Bellamy di menit ke-87.
Gol bermula dari pergerakan Wright-Phillips di menit ke-87. Wright-Phillips kemudian membawa bola menyisir sektor kiri pertahanan Chelsea dan melepas umpan silang kepada Bellamy, yang berada di depan tiang kanan gawang Chelsea. Umpan Wright-Phillips melewati Terry dan Ivanovic, sebelum akhirnya disontek Bellamy masuk ke gawang Hilario.
Di tengah rasa frustrasi, Chelsea mencoba melanjutkan pertandingan dengan kepala tegak. Di masa injury time, mereka pun mendapat hadiah hiburan berupa penalti, menyusul pelanggaran Barry kepada Nicolas Anelka. Lampard yang dipercaya melakukan eksekusi berhasil menunaikan tugas menyarangkan bola ke gawang Given.
Gol itu sempat membangkitkan gairah Chelsea. Sayang, waktu tak cukup banyak bagi Chelsea untuk menghindari kekalahan 2-4. (*)
Selasa, 23 Februari 2010
Ucapan Selamat dari Cirebon
Saya masih ingat dan akan selalu mengingat, saat itu saya masih menjadi pendukung BR (Bandung Raya, Red) dan pada waktu itu saya sedang menyaksikan Semifinal Liga Indonesia tahun 1996 antara kesebelasan Bandung Raya melawan Mitra Surabaya di Stadion Gelora Bung Karno Senayan Jakarta.
Waktu itu secara kebetulan saya duduk berdampingan dengan seorang bapak warga Jakarta yang hadir untuk menyaksikan laga semifinal ini dan beliau mengaku sebagi pendukung dari kesebelasan Persija Jakarta, singkat cerita dalam obrolan singkat saya dengan Bapak tadi, beliau mengungkapkan keprihatinannya kenapa di kota sebesar Jakarta dengan jumlah penduduknya yang mencapai jutaan orang tetapi dukungan terhadap kesebelasan Persija dinilainya sangatlah minim, beliau mengungkapkan bahwa Stadion Menteng di Jakarta Pusat sebagai kandang Persija Jakarta yang berkapasitas tidak lebih dari 8000 orang bahkan sering terlihat kosong saat Persija berlaga disana, malahan beliau selalu melihat orang-orang daerah/kaum pendatanglah yang sering kali berpesta dan berbuat ulah seenaknya di kota Jakarta, beliau selalu memimpikan agar suatu hari nanti, Persija juga mempunyai basis pendukung yang fanatik, militan dan loyal seperti halnya pendukung dari kota-kota lainnya di Indonesia, sayang obrolan kami harus terhenti dan dipisahkan oleh tragedi gas air mata yang memilukan saat itu kerena terjadi kerusuhan di partai semifinal tersebut.
Namun ternyata harapan dari sang Bapak tersebut tidak sampai menunggu begitu lama, karena impian bapak tersebut benar-benar terwujud setelah setahun kemudian tepatnya tanggal 19 Desember 1997 atas kerja keras beberapa orang yang mencintai Persija, berdirilah THE JAKMANIA yang tujuan awalnya adalah sebagai wadah untuk mempersatukan para pecinta Persija Jakarta yang sekarang sudah tumbuh menjadi salah satu kelompok supporter besar dan segani di negeri ini karena terkenal dengan kefanatikannya, kreatif, loyal, militan dan cerdas namun tetap sportif dalam mendukung team Persija .
Harapan saya semoga THE JAKMANIA semakin kompak dan bersatu dengan menghindari konflik-konflik yang tidak perlu diantara sesama Pecinta Persija yang hanya membuat THE JAKMANIA menjadi tercerai berai.
Akhir kata Selamat Ulang Tahun yang ke -12 buat THE JAKMANIA dari kami orang Cirebon yang mencintai Persija..
Waktu itu secara kebetulan saya duduk berdampingan dengan seorang bapak warga Jakarta yang hadir untuk menyaksikan laga semifinal ini dan beliau mengaku sebagi pendukung dari kesebelasan Persija Jakarta, singkat cerita dalam obrolan singkat saya dengan Bapak tadi, beliau mengungkapkan keprihatinannya kenapa di kota sebesar Jakarta dengan jumlah penduduknya yang mencapai jutaan orang tetapi dukungan terhadap kesebelasan Persija dinilainya sangatlah minim, beliau mengungkapkan bahwa Stadion Menteng di Jakarta Pusat sebagai kandang Persija Jakarta yang berkapasitas tidak lebih dari 8000 orang bahkan sering terlihat kosong saat Persija berlaga disana, malahan beliau selalu melihat orang-orang daerah/kaum pendatanglah yang sering kali berpesta dan berbuat ulah seenaknya di kota Jakarta, beliau selalu memimpikan agar suatu hari nanti, Persija juga mempunyai basis pendukung yang fanatik, militan dan loyal seperti halnya pendukung dari kota-kota lainnya di Indonesia, sayang obrolan kami harus terhenti dan dipisahkan oleh tragedi gas air mata yang memilukan saat itu kerena terjadi kerusuhan di partai semifinal tersebut.
Namun ternyata harapan dari sang Bapak tersebut tidak sampai menunggu begitu lama, karena impian bapak tersebut benar-benar terwujud setelah setahun kemudian tepatnya tanggal 19 Desember 1997 atas kerja keras beberapa orang yang mencintai Persija, berdirilah THE JAKMANIA yang tujuan awalnya adalah sebagai wadah untuk mempersatukan para pecinta Persija Jakarta yang sekarang sudah tumbuh menjadi salah satu kelompok supporter besar dan segani di negeri ini karena terkenal dengan kefanatikannya, kreatif, loyal, militan dan cerdas namun tetap sportif dalam mendukung team Persija .
Harapan saya semoga THE JAKMANIA semakin kompak dan bersatu dengan menghindari konflik-konflik yang tidak perlu diantara sesama Pecinta Persija yang hanya membuat THE JAKMANIA menjadi tercerai berai.
Akhir kata Selamat Ulang Tahun yang ke -12 buat THE JAKMANIA dari kami orang Cirebon yang mencintai Persija..
Fenomena Jakmania
bagi warga Jakarta, Jakmania adalah sebuah “kebanggaan” sekaligus sesuatu yang “menyebalkan”. Iya, Jakmania adalah supporter kesebelasan PERSIJA milik Kota Jakarta. Kebanggan karena begitu banyak dan kompak para supporter PERSIJA ini, dengan seragam dan atribut mereka yang berwarna oranye.
Mereka sangat kompak saat sebuah pertandingan sepakbola kesebelasan PERSIJA berlangsung. Mereka tanpa dikomando akan datang ke lapangan sepakbola memberi dukungan. Mereka masih muda. Mereka energik. Mereka semua oranye.
Menyebalkan karena mereka membuat macet Jakarta. Tidak valid juga apabila mereka disalahkan, karena tanpa adanya Jakmania pun, Jakarta tetap selalu macet! Tapi macet total-closed-loop-locked selama 3 jam malam Minggu kemarin saat pertandingan sepakbola PERSIJA di Lebak Bulus, Jakarta Selatan, adalah sebuah fenomenal.
Fenomena sosial yang menarik diamati. Fenomena Jakarta. Fenomena Jakmania.
Karena gue tinggal di Jakarta Selatan, beberapa kali gue on location saat pertandingan PERSIJA berlangsung. Gue berbaur dengan Jakmania. Mungkin cuma gue yang tidak ber-oranye-narsis-mode-on-ria… hihihi…. Gue ada di sana memang ingin mengamati perilaku Jakmania ini.
Yang gue dapati adalah aura kekompakkan. Juga energi yang menyebar ke sesama Jakmania, yang gue yakin mereka tidak kenal satu sama lain. Aura murni tanpa kepentingan masing-masing pribadi. Semua untuk mendukung kesebelasan PERSIJA.
Aura mereka inilah yang ber-interference dengan aura gue. Membuat beberapa kali gue merinding: gue baru sadar ternyata banyak sekali potensi energi anak muda Jakarta ini! Potensi yang sayang sekali akan habis sia-sia selesainya pertandingan. Potensi yang seharusnya digali, diarahkan, dan disalurkan. Potensi untuk Jakarta yang lebih baik — tidak menutup kemungkinan untuk Indonesia yang lebih baik.
Maraknya demo-demo di Jakarta, tidaklah bisa disamakan dengan maraknya Jakmania. Energy generator untuk demo Jakarta adalah kepentingan. Adalah fulus. Adalah demo-by-order. Alih-alih demo Jakarta, maraknya Jakmania berbeda, energy generator mereka adalah kegiatan olahraga.
Gue jadi berandai-andai. Apabila PERSIJA bersama Dinas Sosial PEMPROV DKI Jakarta bisa bekerja sama, membuat beberapa program untuk melakukan leverage dari energi Jakmania ini, maka gue yakin Jakarta akan menjadi lebih baik.
Gue berandai-andai. Apabila kesebelasan PERSIJA yang berjumlah 11 orang plus cadangan — asumsi misalkan 20 orang — didukung dana Dinas Sosial untuk menyewa 10 lapangan Futsal tiap akhir minggu. Masing-masing lapangan Futsal akan didatangi 2 pemain PERSIJA untuk berlatih bersama dengan Jakmania. Agar tidak campur aduk, tiap minggu hanya 10 kelurahan di Jakarta mendapatkan “jatah” latihan Futsal Jakmania-PERSIJA.
Gue berandai-andai. Apabila ini dijalankan selama 1 tahun, maka Jakmania yang tersebar di 520 kelurahan di Jakarta akan merasakan latihan bareng PERSIJA.
Gue berandai-andai, para Jakmania akan merasa diperhatikan oleh PEMPROV DKI Jakarta melalui PERSIJA.
Gue berandai-andai, para Jakmania akan berperilaku lebih baik buat Jakarta. Lebih tertib. Lebih santun. Lebih oranye!
Gue jadi inget sebuah peribahasa:
Siapa menebar benih, dia akan menuai padi…
Siapa menebar angin, dia akan menuai badai…
Mereka sangat kompak saat sebuah pertandingan sepakbola kesebelasan PERSIJA berlangsung. Mereka tanpa dikomando akan datang ke lapangan sepakbola memberi dukungan. Mereka masih muda. Mereka energik. Mereka semua oranye.
Menyebalkan karena mereka membuat macet Jakarta. Tidak valid juga apabila mereka disalahkan, karena tanpa adanya Jakmania pun, Jakarta tetap selalu macet! Tapi macet total-closed-loop-locked selama 3 jam malam Minggu kemarin saat pertandingan sepakbola PERSIJA di Lebak Bulus, Jakarta Selatan, adalah sebuah fenomenal.
Fenomena sosial yang menarik diamati. Fenomena Jakarta. Fenomena Jakmania.
Karena gue tinggal di Jakarta Selatan, beberapa kali gue on location saat pertandingan PERSIJA berlangsung. Gue berbaur dengan Jakmania. Mungkin cuma gue yang tidak ber-oranye-narsis-mode-on-ria… hihihi…. Gue ada di sana memang ingin mengamati perilaku Jakmania ini.
Yang gue dapati adalah aura kekompakkan. Juga energi yang menyebar ke sesama Jakmania, yang gue yakin mereka tidak kenal satu sama lain. Aura murni tanpa kepentingan masing-masing pribadi. Semua untuk mendukung kesebelasan PERSIJA.
Aura mereka inilah yang ber-interference dengan aura gue. Membuat beberapa kali gue merinding: gue baru sadar ternyata banyak sekali potensi energi anak muda Jakarta ini! Potensi yang sayang sekali akan habis sia-sia selesainya pertandingan. Potensi yang seharusnya digali, diarahkan, dan disalurkan. Potensi untuk Jakarta yang lebih baik — tidak menutup kemungkinan untuk Indonesia yang lebih baik.
Maraknya demo-demo di Jakarta, tidaklah bisa disamakan dengan maraknya Jakmania. Energy generator untuk demo Jakarta adalah kepentingan. Adalah fulus. Adalah demo-by-order. Alih-alih demo Jakarta, maraknya Jakmania berbeda, energy generator mereka adalah kegiatan olahraga.
Gue jadi berandai-andai. Apabila PERSIJA bersama Dinas Sosial PEMPROV DKI Jakarta bisa bekerja sama, membuat beberapa program untuk melakukan leverage dari energi Jakmania ini, maka gue yakin Jakarta akan menjadi lebih baik.
Gue berandai-andai. Apabila kesebelasan PERSIJA yang berjumlah 11 orang plus cadangan — asumsi misalkan 20 orang — didukung dana Dinas Sosial untuk menyewa 10 lapangan Futsal tiap akhir minggu. Masing-masing lapangan Futsal akan didatangi 2 pemain PERSIJA untuk berlatih bersama dengan Jakmania. Agar tidak campur aduk, tiap minggu hanya 10 kelurahan di Jakarta mendapatkan “jatah” latihan Futsal Jakmania-PERSIJA.
Gue berandai-andai. Apabila ini dijalankan selama 1 tahun, maka Jakmania yang tersebar di 520 kelurahan di Jakarta akan merasakan latihan bareng PERSIJA.
Gue berandai-andai, para Jakmania akan merasa diperhatikan oleh PEMPROV DKI Jakarta melalui PERSIJA.
Gue berandai-andai, para Jakmania akan berperilaku lebih baik buat Jakarta. Lebih tertib. Lebih santun. Lebih oranye!
Gue jadi inget sebuah peribahasa:
Siapa menebar benih, dia akan menuai padi…
Siapa menebar angin, dia akan menuai badai…
Langganan:
Postingan (Atom)







